Lelaki dan Perempuan Bergincu Tebal
Senin, 21 Maret 2011
1
komentar
Lelaki dan Perempuan Bergincu Tebal
lihatlah pahaku
sehitam ban becakku
matahari telah mencuri langsat tubuhku
meninggalkan teriknya
pada pedal digalau kota
ini dia ; penumpang pertama
perempuan bergincu tebal
melambai dari arah terminal
tempat becakku mangkal
bau parfum yang menyengat
merangsang kuyup apak ketiak
perempuan itu seperti hapal sangat
kata katanya mrucut
"kita memang akrab betul dengan keringat
dalam memburu hari yang sarat siasat"
sebab kita bukanlah orang kotoran
yang terbiasa menganggap kerja seperti dolanan
kita hanya kecoa
nurani yang terbuang entah dimana
andainya terkumpul nanti
selekasnya pasti kuseka keringat-keringat nista
kutanggalkan atribut yang terlanjur melekat
sebagai pramunikmat
perempuan itu melepas getir tawanya
semilir angin masih menyisakan asin airmata
berangkat jauh dilubuk laci batinnya
harapannya tersimpan rapat
Anda sedang membaca artikel tentang Potret Kita Dalam Kata dan anda bisa menemukan artikel Potret Kita Dalam Kata ini dengan url https://ceritadewasa-gabrud.blogspot.com/2011/03/lelaki-dan-perempuan-bergincu-tebal.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Potret Kita Dalam Kata ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Potret Kita Dalam Kata sebagai sumbernya.
lihatlah pahaku
sehitam ban becakku
matahari telah mencuri langsat tubuhku
meninggalkan teriknya
pada pedal digalau kota
ini dia ; penumpang pertama
perempuan bergincu tebal
melambai dari arah terminal
tempat becakku mangkal
bau parfum yang menyengat
merangsang kuyup apak ketiak
perempuan itu seperti hapal sangat
kata katanya mrucut
"kita memang akrab betul dengan keringat
dalam memburu hari yang sarat siasat"
sebab kita bukanlah orang kotoran
yang terbiasa menganggap kerja seperti dolanan
kita hanya kecoa
nurani yang terbuang entah dimana
andainya terkumpul nanti
selekasnya pasti kuseka keringat-keringat nista
kutanggalkan atribut yang terlanjur melekat
sebagai pramunikmat
perempuan itu melepas getir tawanya
semilir angin masih menyisakan asin airmata
berangkat jauh dilubuk laci batinnya
harapannya tersimpan rapat
Baca Selengkapnya ....